Sabtu, 23 Agustus 2014 RSS Feed Bisnis TV Photos ePaper Indonesia Business Daily

SURVEI CAPRES: Megawati calon terkuat versi CSIS

M. Syahran W. Lubis   -   Rabu, 15 Februari 2012, 17:16 WIB

BERITA TERKAIT

 

Peringkat capres versi CSIS
TokohElektabilitas
Megawati10%
Prabowo6,7%
Jusuf Kalla5,6%
Aburizal Bakrie5,2%
Sri Sultan H.B X3,1%
Ani Yudhoyono3,0% 
Hatta Rajasa2,3% 
Mahfud M.D2,0%
Wiranto1,7%
Dahlan Iskan1,2%
Anas Urbaningrum1,2%
Puan Maharani< 1%
Sumber: Survei CSIS 

JAKARTA: Kalau pemilihan presiden digelar hari ini,  Megawati Soekarnoputri akan menjadi calon paling dipilih masyarakat dengan perolehan dukungan 10% dan disusul oleh Prabowo Subianto sebesar 6,7% dari 20 calon presiden yang disurvei.

 
Demikian salah satu hasil penelitian yang dilakukan oleh  Center for Strategic and International Studies (CSIS) sebagaimana diumumkan hari ini. Riset yang dilakukan selama sepekan, 16-24 Januari 2012 itu dilaksanakan di 23 provinsi dengan alasan seluruh provinsi itu memiliki jumlah penduduk lebih dari 1% dari total jumlah penduduk Indonesia.
 
Peneliti CSIS, Philips Vermote mengatakan pemilihan 20 nama tersebut didasarkan atas frekuensi pemberitaan yang tinggi terkait isu pemilihan presiden 2014. Namun dari 20 nama itu kemudian disusutkan menjadi 12 nama yang mendapatkan apresiasi cukup tinggi dari responden. Sebanyak 8 nama lainnya hanya memeroleh angka di bawah 1%.
 
"Bila pemilihan presiden diadakan hari ini, Megawati mendapat dukungan dari 10% pemilih, sementara Prabowo akan mendapatkan dukungan 6,7%," terangnya.
 
Namun yang menarik dari hasil survei ini ternyata mantan Wapres Jusuf Kalla yang saat ini menjadi Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) mampu meraih elektabilitas tertinggi setelah Megawati dan Prabowo, dengan angka 5,6%.  
 
Sementara itu figur-figur calon Presiden 2014 yang selama ini diasosiasikan dengan partai koalisi atau incumbent mendapatkan dukungan lebih rendah. Mereka adalah Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie sebesar 5,2%,  Sri Sultan Hamengku Buwono X 3,1%, Ani Yudhoyono 3%, Hatta Rajasa 2,3%, dan Hidayat Nur Wahid 2,2%.
 
Berikutnya Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, mendapatkan dukungan 2% dan Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Wiranto didukung 1,7% suara. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan dan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum berbagai angka dengan masing-masing dukungan 1,2%.
 
"Sri Mulyani juga masuk dalam daftar, tetapi perolehannya sangat kecil. Sedangkan Boediono (Wapres) tidak dimasukkan," ucapnya menjawab pertanyaan wartawan soal nama Sri Mulyani dan Boediono. 
 
Dia pun menyebutkan meski nama Puan Maharani disebut-sebut punya potensi jadi calon presiden, namun angkanya juga sangat kecil, yakni di bawah 1%,” ujar Philip.
 
Mengomentari hasil survei itu, Ketua DPP PDIP, Maruarar Sirait mengaku tidak heran dengan hasil tersebut. Dia menyebutkan selama ini hasil survei mengenai elektabilitas Megawati cukup stabil.
 
“Memang dari tiga survei terakhir angkanya (Megawati) stabil. Dan, tidak satupun dari survey itu yang dibiayai oleh PDIP maupun ibuk Megawati,” ujarnya. 
 
Namun demikian, Maruarar mengatakan soal Capres 2014, hingga kini PDIP belum memutuskan karena hal itu diserahkan kepada ketua umum PDIP berdasarkan Kongres III PDIP di Bali.
 
Menurutnya, hasil survey itu akan menjadi masukan yang penting bagi partai. Akan tetapi ketika didesak apakah hasil survei itu akan dijadikan acuan bagi PDIP untuk menentukan Capres 204, Maruarar membenarkan.
 
“Kita memilih bupati, walikota, gubernur saja sangat memperhatikan hasil survei. Masak untuk memilih presiden kita tidak memgunakan hasil survei,” ujarnya menjelaskan. 
 
Adapun, terkait tidak munculnya nama Puan Maharani sebagai pilihan favorit masyarakat, lebih jauh Maruarar mengatakan bahwa hal itu membuktikan bahwa pemimpin itu harus mengakar ke masyarakat. (sut)

Editor : Sutarno

 

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.