Sabtu, 25 Oktober 2014 RSS Feed Bisnis TV Photos ePaper Indonesia Business Daily

KERUSUHAN SAMPANG: Presiden minta aparat segera gerak cepat

Editor   -   Senin, 27 Agustus 2012, 10:00 WIB

BERITA TERKAIT

JAKARTA:Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginstruksikan aparat keamanan dan penegak hukum baik di tingkat pusat dan daerah  melakukan langkah cepat dan tepat, sehingga peristiwa  di Sampang, Madura, Jawa Timur tidak terulang kembali.Kepala Negara mencatat dalam 3 kali sudah terjadi  peristiwa  tersebut  di tempat yang sama.“Saya harap  ada langkah-langkah  yang  cepat dan tepat,” kata Presiden Yudhoyono saat memulai memimpin rapat terbatas di Kantor Presiden Senin, 27 Agustus 2012.Dalam rapat tersebut hadir Wakil Presiden Boediono, Kapolri Timur Pradopo, Panglima TNI Agus Suhartono, Menkumham Amir Syamsuddin, Menteri Agama Suryadharma Ali,  Jaksa Agung Basrief Arief, Kepala BIN Marciano Norman,  Mensesneg Sudi Silalahi, Seskab Dipo Alam.Terkait dengan peristiwa kekerasan di Sampang, Presiden Yudhoyono mengatakan sudah berbicara dengan  Gubernur Jawa Timur Soekarwo beberapa saat yang lalu.“Pagi ini saya didampingi  Wapres untuk minta laporan , sekaligus  menentukan langkah yang harus diambil oleh pemerintah  termasuk aparat keamanan dan penegak hukum baik pada tingkat pusat maupun  daerah sehubungan dengan terjadinya kekerasan dan pelanggaran hukum yang terjadi di Sampang, Jawa Timur,” kata SBY.Presiden menginstruksikan pada jajarannya untuk  berupaya  agar peristiwa kekerasan tidak lagi terulang.“Sehingga kejadian begini tidak terus terjadi di tempat yang sama,” kata SBY.Seperti diketahui Presiden Yudhoyono didesak segera mengambil langkah nyata terhadap peristiwa penyerangan terhadap jemaat Syiah di Sampang, Madura karena dianggap sebagai kondisi darurat kebebasan beragama.Kepala Negara juga diminta menegur Kapolri yang tidak berhasil menjalankan fungsi keamanan (Bisnis, 27 Agustus).Hal itu disampaikan Setara Institute dan Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam) di Jakarta. Ketua Setara Institute Hendardi mengatakan peristiwa penyerangan, pembakaran dan pembunuhan bukanlah kerusuhan melainkan penyerangan secara sistematis yang direncanakan.Dia mengungkapkan peristiwa Sampang merupakan potret terburuk kebebasan beragama pada tahun ini. Hendardi menegaskan keberulangan peristiwa itu terjadi karena tidak adanya penegakan hukum.Menurutnya, Kapolri harus turun tangan untuk mengatasi serangan massa yang berulang-ulang.Data Elsam dan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) menyebutkan dua warga Syiah di Sampang, Madura meregang nyawa akibat penyerangan yang dilakukan sekitar 500  orang pada 26 Agustus 2012.Korban yang meninggal yakni Hamamah dan Thorir meninggal akibat diduga serangan senjata tajam dan tumpul. Selain itu terdapat empat orang luka berat, enam orang luka ringan dan seorang wanita bahkan pingsan.Direktur Elsam Indriaswati Dyah Saptaningrum mengatakan posisi kepolisian dalam kasus-kasus berlatar kekerasan atas nama agama kerap serupa, yakni tidak pernah menindak tegas para pelaku kekerasan dan perusakan, bahkan cenderung menyalahkan pihak minoritas.Oleh karena itu, dia menuturkan, agar Presiden menegur Kapolri untuk melaksanakan fungsi keamanan secara maksimal dengan menjamin rasa aman bagi seluruh warga negara Indonesia. (arh)

 

 

 


Source : Linda T. Silitonga

Editor :

Ikuti berita Bisnis.com melalui smartphone Android dengan aplikasi Android Apps Bisnis.com. Download di Google Play!
 
Beli Buku, Data, ePaper, Indonesia Business Daily bisa dengan kartu kredit. Klik di sini!
Reader's Choice: Pilih Topik menarik untuk Diulas oleh Harian Bisnis Indonesia. Klik di sini!

Layak Disimak

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.