Selasa, 02 September 2014 RSS Feed Bisnis TV Photos ePaper Indonesia Business Daily

INDUSTRI KAYU: Hadapi SVLK, Asmindo Bentuk Grup Sertifikasi

Editor   -   Senin, 12 November 2012, 19:23 WIB

BERITA TERKAIT

SOLO: Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia atau Asmindo Soloraya membentuk grup sertifikasi untuk menyiasati rencana penerapan sistem verifikasi lacak kayu.Ketua Asmindo Soloraya David R Wijaya mengatakan grup sertifikasi ini hanya berlaku bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) mebel pemegang tanda daftar industri (TDP).“Kini sudah ada sekitar 23 UKM yang berminat gabung dalam grup sertifikasi sistem verifikasi lacak kayu atau SVLK,” katanya hari ini, Senin (12/11/2012). Ditemui di sela-sela agenda Persiapan Pilot Project Nasional Penerapan SVLK di Grha Saba Bhuana, David mengatakan, Asmindo akan membuat satu grup dulu sebagai pilot project.  David mengatakan pembentukan grup sertifikasi SVLK ini merupakan salah satu alternatif dan solusi bagi UKM agar bisa mengikuti program SVLK sesuai ketentuan pemerintah dan perjanjian antara Indonesia dengan Uni Eropa. Peraturan SVLK ini menuntut biaya yang sangat mahal.“Sekali audit bisa butuh biaya Rp25 juta. Belum lagi sertifikasi lain yang menyangkut tenaga kerjanya dan persyaratan perijinan lainnya.”Dengan adanya grup sertifikasi ini, UKM lebih dipermudah untuk mendapatkan sertifikat SVLK dengan biaya yang lebih murah.Dia menjelaskan grup sertifikasi artinya beberapa UKM akan bekerja dalam satu bendera perusahaan.“Meskipun demikian, UKM-UKM ini juga harus siap. Jika diaudit ternyata ada satu yang tidak lulus, maka yang lainnya ikut kena dan dampaknya produk mebel tidak bisa masuk ke Eropa.”Koordinator Grup Sertifikasi, Adi Dharma, mengatakan grup sertifikasi ini tidak berlaku bagi pemegang izin usaha industri (IUI). Pemegang IUI tetap harus melakukan sertifikasi sendiri.“Diharapkan dengan sistem grup sertifikasi bisa jadi jalan keluar bagi produk kayu UKM untuk mendapatkan SVLK dan produknya tetap bisa masuk ke Eropa.”Seperti diketahui, kata Adi, selama ini UKM dihadapkan pada persoalan biaya sertifikasi yang sangat mahal. Dengan membuat grup, maka biaya yang ditanggung masing-masing UKM akan lebih murah. Nantinya satu sertifikasi untuk satu grup.David kembali menyampaikan dukungan pemerintah daerah terhadap UKM yang sedang mempersiapkan sertifikasi ini sangat diperlukan. Seperti dalam mengurus perizinan-perizinan harapannya bisa dipermudah.Perjanjian SVLK antara Indonesia dan Eropa berlaku Maret 2013. Pihaknya berharap 3 Maret 2013 sudah ada grup yang siap ekspor.Untuk industri mebel pemegang IUI, lanjut David, saat ini ada sekitar 10 perusahaan di Soloraya yang juga sedang melakukan proses sertifikasi.Dia memprediksi penerapan SVLK awal 2013 akan sedikit menggangu kinerja ekspor mebel khususnya ke Eropa.“Kami harapannya dampak ini tidak besar. Selama ini, mebel menjadi penyumbang kedua terbesar untuk ekspor setelah tekstil dan produk tekstil (TPT),” katanya.Setiap tahun ekspor mebel Soloraya bisa mencapai nilai US$60 juta atau rata-rata US$5 juta per bulan. (dot) 


Source : JIBI/Solopos/Hijriyah Al Wakhidah

Editor :

Ikuti berita Bisnis.com melalui smartphone Android dengan aplikasi Android Apps Bisnis.com. Download di Google Play!
 

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.