Selasa, 02 September 2014 RSS Feed Bisnis TV Photos ePaper Indonesia Business Daily

INDUSTRI OTOMOTIF: Persaingan antar ATPM kian ketat

  -   Kamis, 03 Januari 2013, 20:33 WIB

BERITA TERKAIT

JAKARTA--Persaingan antar agen tunggal pemegang merek kendaraan semakin berdarah-darah pada tahun ini karena produksinya terus meningkat, tetapi pangsa pasarnya cenderung stagnan dengan kemampuan daya beli yang relatif tertekan oleh berbagai kebijakan baru regulator.

Seluruh agen tunggal pemegang merek (ATPM) berusaha meningkatkan volume produksi sesuai dengan kapasitas terpasang pabriknya untuk mendukung pencapaian target pemasaran produk yang ditetapkan lebih tinggi dari realisasi tahun lalu.

Davy J. Tuilan, Marketing Director PT Suzuki Indomobil Sales, ATPM Suzuki, mengatakan optimistis situasi ekonomi dalam negeri akan terjaga tetap stabil sebagai wujud keberhasilan pemerintahan sekarang dengan mempertahankan pertumbuhan ekonommi di atas 6,3%.

"Melihat perkembangan situasi ekonomi nasional yang relatif stabil maka industri otomotif akan terdorong untuk terus tumbuh, produksinya meningkat dari tahun lalu," katanya menjawab Bisnis di Jakarta, Kamis (3/1/2013).

Menurutnya, pemerintahan sekarang berkepentingan menjaga stabilitas ekonomi di dalam negeri agar dinilai berhasil dan dapat memenangi pemilihan umum pada 2014. Kondisi yang demikian itu sangat menguntungkan bagi perkembangan industri otomotif nasional.

Adapun tantangan yang dihadapi ATPM pada 2013, lanjutnya, adalah persaingan yang semakin ketat dalam memperebutkan pangsa pasarnya produnyanya masing-masing, yang kian diperparah oleh kemampuan daya beli konsumen yang semakin tertekan oleh imbas kebijakan baru dari regulator.

Jongkie D. Sugiarto, Ketua Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia, mengatakan industri otomotif dibayang-bayangi oleh dampak dari sejumlah kebijakan baru dari regulator yang secara langsung berkaitan dengan proses produksi atau pun penjualan produk.

Kebijakan itu antar lain kenaikan tarif dasar listrik dan gas, upah minimum, rencana penghapusan atau pembatasan bahan bakar minyak bersubsidi, dan depresiasi nilai tukar rupiah.

Menurutnya, kebijakan regulator menerapkan batas menimim uang muka kredit kendaraan bermotor sejak Juni 2012 yang segera diikuti oleh lembaga keuangan syariah juga akan memberatkan konsumen.(msb)


Source : Nurudin Abdullah

Editor : Martin Sihombing

Ikuti berita Bisnis.com melalui smartphone Android dengan aplikasi Android Apps Bisnis.com. Download di Google Play!
 

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.