Sabtu, 25 Oktober 2014 RSS Feed Bisnis TV Photos ePaper Indonesia Business Daily

KOREA SELATAN berencana tingkatkan penjualan properti

Reporter   -   Rabu, 20 Maret 2013, 13:21 WIB

BERITA TERKAIT

BISNIS.COM,SEOUL -- Penjualan perumahan di Korea Selatan yang terus mengalami penurunan sejak 2006 adalah sebuah peringatan bagi pemerintahan Presiden Park Geun Hye agar segera mengeluarkan kebijakan yang mampu mengatasi masalah tersebut.

Langkah serupa juga telah dilakukan pemerintah China, Singapura dan juga Hong Kong.

Transaksi properti di Korsel menurun sebesar 14% ke 47.288 transaksi pada Februari. Berdasarkan data Kementerian Perumahan, juga diketahui bahwa harganya terkoreksi, bahkan di Seoul berada pada posisi terendah sejak Maret 2008.

Sementara itu, negara tetangga tak dipusingkan dengan soal perumahan, di Korea Selatan justru dihadapkan dengan masalah suku bunga yang secara tidak langsung telah menghambat kredit perumahan.

Menjelang pertemuan kabinet Presiden Park Geun Hye yang akan diselenggarakan besok, pengamat HSBC Holdings Plc mengatakan bahwa kebutuhan fiskal saat ini sangat dibutuhkan.

“Permintaan (kredit perumahan) telah mengalami kemerosotan dan akan sulit untuk bangkit kembali”, kata Ronald Man, seorang ekonom dari HSBC di Hong Kong. “pendapatan rumah tangga harus benar-benar meningkat dengan signifikan agar pasar property kembali seperti semula” lanjutnya.

Pemerintah mungkin akan mengeluarkan dana bantuan sebesar 10 triliun won atau setara dengan  US$9 milliar pada 26 Maret ini, berdasarkan laporan berita Yonhap kemarin, tanpa bersedia menyebutkan sumber informasi tersebut.

Ketika dikonfirmasi, Choi Sang Mok, Direktur Umum Kementerian Keuangan, mengatakan tidak tahu mengenai hal tersebut.

Pemerintah telah sepakat untuk mengurangi pajak konsumsi rumah tangga pada bulan ini, berdasarkan pernyataan mereka di dalam e-mail pada 17 Maret. Meskipun demikian, Komisi Pelayanan Jasa Keuangan belum sepakat mengenai rencana tersebut, kata Shin Je Yoon di Parlemen 18 Maret.

Singapura dan China

Di Singapura, penjualan perumahan mengalami kejatuhan di bulan februari. Harga perumahan di ibu kota negara mengalami peningkatan pada kuartal IV. Hong Kong telah melakukan pengetatan dan berjaga-jaga jika suatu saat harga mengalami penurunan secara tiba-tiba. Di New Zealand, bank sentral negara ini mengatakan telah bersiaga terhadap risiko dari gelombang ini

China, pada bulan ini akan menerapkan kebijakan yang ketat terhadap pasar properti. Kebijakan ini sebagai upaya dalam meminimalisir risiko dan menjaga agar kredit perumahan tetap terjangkau masyarakat.Pejabat pemerintah menyatakan keyakinannya akan masuknya dana dari lembaga otoritas keuangan negara-negara berkembang.

“Tidak seperti China, di mana semakin meningkatnya kelas menengah berpengaruh juga terhadap peningkatan permintaan, pasar perumahan di korea selatan benar-benar jenuh”, kata Seung Yeon Ju, seorang analis pasar properti di Seoul. “Permintaan di sini benar-benar lemah di mana sedikit sekali orang yang melakukan pembelian perumahan sebagai investasi mereka”, lanjutnya.

Penurunan Penjualan

Di Korsel, transaksi total pada Januari adalah sebesar 27.070 transaksi, merupakan rekor bulanan terendah sejak  2006, berdasarkan data kementrian perumahan.

Salah satu sumber di HSBC mengatakan permintaan itu menurun karena risiko kredit yang lebih tinggi dari tahun lalu sebagai akibat dari krisis finansial global. Utang rumah tangga mencapai 959,4 triliun won pada kuartal IV tahun lalu.

Harga perumahan mengalami penurunan sebesar 0,5% pada awal tahun, ini merupakan penurunan terbesar sejak September 2009, berdasarkan data Kookmin Bank. Harga koreksi 0,1% dari Januari sampai Februari, atau penurunan berturut-turut selama 8 bulan dan kejatuhan terbesar sejak 2005, meskipun bank sentral Korsel telah melakukan pemotongan suku bunga dua kali pada tahun lalu.

 Musim Terburuk

“Saat ini adalah musim terburuk industri real estat sejak 1996,” kata Im Hyeong Lim, seorang penjual properti di Mokdong, salah satu daerah yang mengalami dampak terparah.

“Sama sekali tidak ada transaksi pada Januari, dan Februari hanya terjadi sekali transaksi” katanya.

“Banyak orang mengurungkan niatnya untuk melakukan transaksi karena takut harganya akan jatuh” lanjutnya.

(faa)


Source : Bloomberg, Taufiqur Rahman

Editor : Other

Ikuti berita Bisnis.com melalui smartphone Android dengan aplikasi Android Apps Bisnis.com. Download di Google Play!
 
Beli Buku, Data, ePaper, Indonesia Business Daily bisa dengan kartu kredit. Klik di sini!
Reader's Choice: Pilih Topik menarik untuk Diulas oleh Harian Bisnis Indonesia. Klik di sini!

Layak Disimak

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.