Senin, 21 April 2014 RSS Feed Videos Photos ePaper English Version

PRODUKSI GULA: Target 5 Juta Ton pada 2014 Diyakini akan Gagal

Yoseph Pencawan   -   Selasa, 02 April 2013, 17:55 WIB

BERITA TERKAIT

BISNIS.COM, SEMARANG--Target realisasi swasembada gula nasional sebesar 5 juta ton pada 2014 terancam sulit terwujud lantaran perbedaan orientasi pemikiran antara pemerintah dengan para petani tebu untuk menuju pencapaian tersebut.


Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) menilai langkah pemerintah yang hanya mencanangkan penambahan luas areal tanaman tebu sebesar 300.000 hektare tidak akan berguna apabila tanpa didukung upaya peningkatan produktifitas dan peningkatan rendemen tebu petani dengan cara modernisasi peralatan.

Ketua Dewan Pimpinan Nasional (DPN) APTRI, Soemitro Samadikoen mengatakan salah satu upaya yang seharusnya dilakukan pemerintah meningkatkan produktifitas dan rendemen itu adalah dengan merevitalisasi pabrik gula (PG) sebanyak-banyaknya, seiring persiapan menghadapi pasar bebas 2015.

“Saat ini orientasi pemerintah dengan petani tebu dalam mewujudkan swasembada gula bersimpangan. Pemerintah beranggapan hanya perlu menambahan luas areal tanaman tebu saja, sementara dari sisi petani kalau produktifitas dan rendemen tidak meningkat maka gula yang dihasilkan dari tanaman tebu itu tetap tidak akan banyak,” tuturnya di Semarang, Selasa (2/4/2013).

Menurutnya, selain mendorong sisi petani meningkatkan perbaikan tanaman, ekstensifikasi, bongkaratun, pengunaan pupuk berimbang, seharusnya pemerintah juga melakukan revitalisasi PG sebanyak-banyaknya karena dari modernisasi peralatan itulah produktifitas dan rendemen juga dapat meningkat.

“Petani akan meningkatkan luas areal tanaman dengan sendirinya secara alamiah apabila biaya pokok produksinya rendah, dan ini hanya bisa diperoleh dengan peningkatan produktifitas dan rendemen, sekaligus persiapan bersaing dipasar bebas 2015 mendatang,” tuturnya.

Saat ini, kata dia, produksi gula yang dihasilkan dari setiap hektar tanaman tebu hanya menjadi sekitar 5-6 ton saja.

Padahal, lanjutnya dalam sejarah Indonesia, saat Belanda kuasai Indonesia 1929, dengan jumlah PG sebanyak 162 unit dan areal tanaman tebu hanya 200.000 ton, bisa menghasilkan 15 ton gula, saat itu rendemen antara 12-14.

“Dengan luas lahan segitu, saat itu bahkan kita menjadi eksportir terbesar ke dua setelah Kuba. Jadi, intinya tidak hanya luasan lahan, tapi bagaimana produktifitasnya meningkat.

Kalau hanya luasan lahan bertambah, dengan rendemen rendah seperti saat ini hanya 7,2, maka yang tercapai hanya kuantum saja bukan produktifitasnya,” tuturnya.

Dia menjelaskan saat ini luas lahan tebu di seluruh Indonesia sekitar 450.000 ha, pada 2012 menghasilkan gula sekitar 2,6 juta ton.

Total produksi itu belum mampu memenuhi kebutuhan gula saat ini, baik untuk konsumsi rumah tangga dan warung sekitar 2,7 juta ton, maupun industri makanan dan minuman antara 1,8 juta–2,2 juta ton.

Menurutnya, apabila kondisi rendemen saat ini 7,2 dan maksimal hanya 8 seperti yang ditargetkan pemerintah saat ini, pihaknya tidak yakin pada 2014 dapat mencapai swasembada gula nasional 5 juta ton secara keseluruhan.

“Swasembada gula hanya akan tercapai apabila hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga dan warung saja, dan sisianya dipastikan impor,” tuturnya.

Dia mengatakan, untuk meningkatkan produktifitas serta rendemen tinggi, tidak lain caranya adalah modernisasi peralatan, yakni melakukan revitalisasi pabrik gula sebanyak-banyaknya.(k39/yop)


Source : Puput Ady Sukarno

Editor : Other

Berlangganan Epaper Bisnis Indonesia Cuma Rp10 Juta Seumur Hidup, Mau? Klik disini!
 

Bisnis Indonesia Writing Contest berhadiah utama Mobil Daihatsu Ayla mulai menayangkan tulisan peserta 1 April 2014. Ayo “Vote & Share” sebanyak-banyaknya DI SINI.

Layak Disimak

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.