Jum'at, 31 Oktober 2014 RSS Feed Bisnis TV Photos ePaper Indonesia Business Daily

PILKADA KOTA BANDUNG: Budi Dalton Abaikan Hasil Survei

Fajar Sidik   -   Rabu, 15 Mei 2013, 12:02 WIB

BERITA TERKAIT

BISNIS.COM, BANDUNG - Calon Wali Kota Bandung dari jalur perseorangan, Budi Dalton Setiawan menyatakan tetap melaju meskipun hasil survei P2KS Unpad menempatkannya di peringkat keenam.

"Santai saja, namanya juga survei sah-sah saja. Namun lebih baik tidak dipublis lah, jangan sampai menggiring-giring pemilih," kata Budi Dalton ditemui di sela-sela diskusi dengan tokoh Sunda di Bandung, Rabu (15/5/2013).

Dia menyebutkan hasil survei itu cukup berpengaruh dan membingungkan masyarakat pemilih terutama yang masih awal dengan hasil survei itu.

"Nanti bukannya mendukung, tapi bisa meresahkan. Namun saya sarankan agar ada survei pembanding," tuturnya.

Dia sendiri tidak berupaya melakukan survei elektabilitas, jumlah pemilih maupun tingkat partisipasi Pilkada Kota Bandung. Budi lebih fokus untuk melakukan sosialisasi dengan beberapa program yang diusungnya.

"Saya fokus saja pada sosialisasi, masyarakat mau tergiring atau tidak oleh hasil survei itu, yah terserah. Saya kembalikan kepada hati nurani masing-masing," ujarnya.

Terkait optimismenya pada Pilkada Kota Bandung, Budi Dalton yang berpasangan dengan pengusaha muda Rizal Firdaus menyatakan sangat siap dan tidak main-main dengan pencalonannya. "Saya maju karena punya visi dan misi, sangat serius dan fight," tegasnya.


Editor : Fajar Sidik

Ikuti berita Bisnis.com melalui smartphone Android dengan aplikasi Android Apps Bisnis.com. Download di Google Play!
 
Beli Buku, Data, ePaper, Indonesia Business Daily bisa dengan kartu kredit. Klik di sini!
Reader's Choice: Pilih Topik menarik untuk Diulas oleh Harian Bisnis Indonesia. Klik di sini!

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.