Rabu, 22 Oktober 2014 RSS Feed Bisnis TV Photos ePaper Indonesia Business Daily

PENGUMUMAN UN 2013: Bengkulu Tertinggi Ketidaklulusan

Martin Sihombing   -   Jum'at, 31 Mei 2013, 21:57 WIB

BERITA TERKAIT

BISNIS.COM, JAKARTA-- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan, tingkat ketidaklulusan tertinggi Ujian Nasional SMP sederajat tahun ajaran 2012-2013 ada di Provinsi Bengkulu, yaitu dengan persentase sebesar 2,55%.

"Dari 28.324 peserta UN SMP sederajat di Bengkulu, sebanyak 2,55% atau 723 siswa dinyatakan tidak lulus setelah ditentukan berdasar penggabungan nilai Ujian Nasional (UN) murni dengan nilai sekolah," kata M. Nuh di Jakarta, Jumat (31/5/2013).

Dia mengatakan, provinsi kedua dengan tingkat ketidaklulusan tertinggi adalah Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan persentase 2,32%, di mana sebanyak 1.922 siswa dari 82.946 peserta UN SMP sederajat di provinsi itu dinyatakan tidak lulus.

Selanjutnya, pada posisi ketiga dengan persentase ketidaklulusan 2,24% adalah Maluku, disusul Sulawesi Tenggara dengan 2,18% dan Papua 2,15%.

Provinsi Aceh, menurut dia, meski tingkat ketidaklulusan hanya 1,86%  dan berada di urutan ketujuh, namun jumlah siswa yang tidak lulus mencapai 1.432 dari total 76.642 peserta UN SMP di provinsi tersebut.

 

 

Tingkat Ketidaklulusan Tertinggi Ujian Nasional SMP

Sederajat Tahun Ajaran 2012-2013

Provinsi

Tidak Lulus (%)

Bengkulu

2,55%

NTT

2,32%

Maluku

2,24%

Sulawesi Tenggara

2,18%

Papu

2,15%

Aceh

1,86%

DKI

0,00%



"Adapun tingkat ketidaklulusan terendah ada di DKI Jakarta, yakni 0,00%  atau hanya satu siswa yang tak lulus dari total 131.363 orang peserta UN SMP sederajat,”  kata Mendikbud kepada Antara.

Nuh mengatakan kriteria kelulusan peserta didik pada UN SMP ditentukan dengan nilai akhir untuk kelulusan yang komposisinya terdiri dari 60%  nilai UN murni dan 40% persen nilai sekolah sehingga membuat tingkat ketidaklulusan lebih rendah.

"Peserta didik SMP dan sederajat itu dinyatakan lulus UN, jika nilai akhir rata-rata lebih dari sama dengan (minimal,red) 5,5 dan nilai tiap mata pelajaran paling rendah empat," paparnya.

Dia juga menyampaikan bahwa rata-rata nilai sekolah dari seluruh SMP di Indonesia adalah 8,2. Sementara itu, nilai rata-rata UN murni SMP sederajat tahun ini adalah 6,1, yakni turun sebanyak 1,37 poin dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 7,47.

Menurut dia, nilai rata-rata UN murni SMP sederajat yang turun itu disebabkan komposisi soal UN yang sulit meningkat sebesar 10 persen dibanding soal UN SMP pada tahun ajaran 2011-2012.

Pada kesempatan itu, Mendikbud memaparkan bahwa jumlah peserta UN SMP sederajat tahun ajaran 2012-2013 adalah 3.667.241 siswa, dan peserta UN yang dinyatakan lulus berjumlah 3.650.625 siswa, sedangkan yang tidak lulus berjumlah 16.616 siswa.

Hal itu, kata dia, menunjukkan tingkat kelulusan UN SMP sederajat tahun ini mencapai 99,55%, dan persentase ketidaklulusannya adalah 0,45%.

"Berarti persentase kelulusan tahun ajaran 2012- 2013 ini turun 0,02% dari tahun sebelumnya yang mencapai 99,57%," tuturnya.

Nuh juga mengatakan penyebab utama ketidaklulusan para siswa SMP pada tahun ini adalah rata-rata nilai akhir UN yang tidak mencapai 5,5 sesuai persyaratan kelulusan.

"Jadi, ada 16.593 siswa yang tidak lulus karena nilai rata-ratanya di bawah 5,5. Kemudian, 23 siswa lainnya ada yang nilai rata-ratanya mencapai 5,5, tetapi ada mata pelajaran yang nilainya di bawah empat," ungkapnya.

 

BACA JUGA:


Source : Newswire

Editor : Martin Sihombing

Ikuti berita Bisnis.com melalui smartphone Android dengan aplikasi Android Apps Bisnis.com. Download di Google Play!
 
Beli Buku, Data, ePaper, Indonesia Business Daily bisa dengan kartu kredit. Klik di sini!
Reader's Choice: Pilih Topik menarik untuk Diulas oleh Harian Bisnis Indonesia. Klik di sini!

Layak Disimak

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.