Kamis, 24 Juli 2014 RSS Feed Bisnis TV Photos ePaper Indonesia Business Daily

Muhammadiyah Mulai Puasa 9 Juli, Tak Ikut Sidang Itsbat

Yusran Yunus   -   Sabtu, 15 Juni 2013, 20:05 WIB

BERITA TERKAIT

BISNIS.COM, JAKARTA-Pimpinan Pusat Muhammadiyah konsisten pada keputusan sebelumnya untuk tidak bergabung dalam sidang Itsbat yang nantinya digelar pemerintah terkait penetapan 1 Ramadhan 1434 Hijriyah/2013 Masehi dan 1 Syawal 1434 H/2013 M.

"Muhammadiyah masih belum mencabut keputusannya untuk tidak mengikuti sidang tersebut, yang dianggap tidak menampung aspirasi Muhammadiyah dan cenderung mengolok-olok," kata Ketua PP Muhammadiyah, Yunahar Ilyas dalam konferensi pers di Gedung PP Muhammadiyah, Jl.Cik Di Tiro No.23, Yogyakarta, Kamis (13/6/2013).

Dalam maklumatnya, Muhammadiyah telah menetapkan ijtima jelang Ramadhan 1434 H, akan terjadi pada hari Senin Pon, 8 Juli 2013 mulai pukul 14:15:55WIB, sedangkan tinggi bulan pada saat matahari terbenam di Yogyakarta adalah +0® 44’ 59”, dan hilal akan wujud membelah dari kawasan Indonesia.

Dengan kriteria hisab wujudul hilal yang telah terpenuhi tersebut, PP Muhammadiyah telah menetapkan bahwa 1 Ramadhan 1434 H akan jatuh pada Selasa Wage, 9 Juli 2013.

Wakil Ketua Majelis Tarjih PP Muhammadiyah Oman Faturohman menjelaskan ditetapkan juga awal Syawal dan Dzulhijjah 1434 H, dimana 1 Syawal akan jatuh pada 8 Agustus 2013 dan 1 Dzulhijjah akan jatuh pada Ahad, 6 Oktober 2013, sehingga Idul Adha akan jatuh pada Selasa Pahing, 15 Oktober 2013.

 

PP Muhammadiyah telah menetapkan bahwa 1 Ramadhan 1434 H akan jatuh pada Selasa Wage, 9 Juli 2013.



Menyinggung potensi perbedaan dalam penetapan yang akan diputuskan pemerintah pada siding itsbat, Oman tidak menepis akan adanya perbedaan tersebut, karena dengan motode hisab imkannurukyat 2 derajat yang digunakan pemerintah, maka saat hilal wujud di Yogyakarta dengan ketinggian kurang dari 1 derajat, jelas tidak memenuhi unsur metode yang digunakan pemerintah.

Sedangkan untuk awal Syawal dan Dzulhijjah, paparnya, kemungkinan besar akan bersamaan, karena ketinggian bulan pada saat matahari terbenam setelah ijtima, sudah lebih dari 2 derajat.

Menurut Yunahar, perbedaan yang kemungkinan akan terjadi pada 1 Ramadhan nanti tidak perlu diperdebatkan, karena masing-masing berpedoman pada fikih yang diyakini.

Muhammadiyah berpedoman, berpuasa pada 1 Ramadhan adalah sesuatu yang dalam ibadah disebut taabudi yakni hal yang tidak bisa diperdebatkan.

Sedangkan untuk metode yang digunakan untuk menetapkan awal bulan, merupakan wilayah yang masih dapat diperdebatkan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang ada.

“Muhammadiyah tidak akan menawar metode yang ada dengan metode pemerintah, karena wilayah ibadah adalah wilayah yang harus dipertanggungjawabkan pada Allah SWT,” tegasnya.

 BACA JUGA:

 


Source : Muhammadiyah.or.id

Editor : Yusran Yunus

Siapa peraih GRAND PRIZE 1 UNIT MOTOR Tebak Skor & Juara Brasil 2014? Klik DI SINI!.
 

THR dari Bisnis Indonesia: Berlangganan ePaper seumur hidup hanya Rp10 juta. Terbatas hingga 31 Juli, klik DI SINI!.

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.